Tribute To Myself

I would like to say:

HAPPY BIRTHDAY TO ME

I love You, My Dear Self..

Konser Koes Plus

Sore tadi saya bercengkrama dengan dua adik saya. Masing - masing peralihan dari SD ke SMP *nemnya kok bagus* dan kelas 5 SD.

Karena dari sananya kami adalah kakak beradik yang aneh, maka topik pembicaraan kami pun aneh. Temanya lagu - lagu perjuangan. Awalnya saya hanya iseng. Konser tunggal yang menyakiti telinga tetangga. Lha kok krucil 2 biji nyamber. Jadilah kami membentuk Koes Plus abal - abal.

Diawali dengan lagu “Mengheningkan Cipta”. Saya suara satu, mereka suara alam. Ternyata mereka masih hapal.

Lagu kedua adalah “Gugur Bunga”. Sayangnya cuma saya yang hapal. Mereka mengiri dengan pap pap cuap. :lol:

Lagu ketiga “Hari Merdeka”. Kami konser bersama. Suasana rumah menjadi sangat patriotis. Tidak ada senioritas antara kakak dan adik. Kami semua menyanyi dalam harmoni.

Lagu keempat “Indonesia Pusaka”. Cuma saya dan si krucil kelas 5 SD yang hapal. Saya jadi mulai berpikir, apa sih yang diajarkan sama sekolahan sekarang? Kok adik saya yang kelas 6 itu mengeluh tidak diajari lagu - lagu favorit saya patriotis macam itu.

Masuk lagu kelima “Garuda Pancasila”. Saya justru terjaget - kaget.

Kami bertiga: Garuda Pancasilaaaaaa… Akulah pendukungmuuuu… Patriot proklamsi setia berkorban untukmuuuuu….

Adek2 saya: Pancasila dasarnya apaaaa…. Rakyat adil makmurnya kapaaaannn… Pribadi bangsaku enggak maju2. Enggak maju2. Enggak maju majuuuu….

Saya: *bengong*

Lha kok mereka tau versi kontroversial dari lagu itu? Padahal selama ini mereka adem - adem aja. Tipe anak - anak pecicilan yang ga hobi baca koran atau mengamati perkembangan. Perasaan juga saya ndak pernah mencuci otak mereka dengan hal - hal semacam itu. :lol:

Terus saya gulirkan dialog berikut:

Saya (S): Kok kalian tau lagu itu sih?

Yang Kelas 5 SD (YK5S): Tau dong. *nepok dada*

Yang Kelas 6 SD (YK6S): Keren ya, Kak? Itu yang bikin cerdas banget ya. Kreatip.

YK5S: Itu orangnya ditangkep ya, Kak?

S: Iya, makanya jangan nyanyi2 gitu di depan umum. Ntar ribet urusannya.

YK6S: Tapi keren tuh. Aku sih rela deh dimasukin penjara asal bikin yang cerdas2 gitu.

S: Ini anak kesambet kali.

YK5S: Makanya. Teriakin tuh di mukanya SBY. RAKYAT ADIL MAKMURNYA KAPAN?? *gaya orator*

Dan saya terpana. Adik - adik saya ternyata tumbuh menjadi anak yang sadar situasi sosial. Sadar masalah bangsa. Padahal tadinya saya pikir mereka ingat nama presiden Indonesia saja sudah syukur. Ternyata lebih dari itu.

Ah, bangganya. :)

Idealisme yang Tergadai

Percakapan di suatu siang:

Mahasiswa (M): *mengejar petugas akademik* Pak, Pak..!! Abis makan kan?

Petugas Akademik (PA): Iya. Emang kenapa?

M: Rokoknya apa, Pak? Eh, jangan bayar! Jangan Bayar! Biar saya aja! Apaan rokoknya, Pak?

PA: Sams**.

M: Sip. *bayar rokok Sams** 2 bungkus*

PA: Ada apaan?

M: Jadi begini, Pak. Nilai saya ketahuan nih kalo ada yang palsu 4 mata kuliah. Tolongin dong, Pak.

PA: Ya udah, sini berkasnya.

———– Transaksi—————

Saya (S): Nilai lo palsu?

Mahasiswa Tukang Suap (MTS): Iya. Ada sekitar 8 sks gitu lah. Soalnya kan kemaren gw sibuk ngurus FOR**, jadi ya terbengkalai dikit deh kuliah gw. Semester 1 dan 2 gw dapet beasiswa loh. *membusungkan dada*

S: Ow.. Terang aja beasiswanya ditarik. Lo males kuliah gitu. Trus tadi lo nyuruh orang akademik benerin nilai lo?

MTS: Hooh, soalnya dulu yang malsuin nilai gw jg dia. Eh, ga taunya ketauan gini. Repot deh gw. Gw kira ga bakal dicek ulang. Ga taunya dicek. Ya gw kasih rokok aja dah. Hahaha

S: Nyuap ya?

MTS: Errr… Ga dong. Gw kan minta tolong. *apa hubungannya* lagian cuma rokok gitu.

S: Hooo.. Jadi kalo Cuma rokok itu bukan nyuap ya?

MTS: Bukan lah. Lagian kan kita udah pren sama orang akademik itu.

S: Eh, kalo gw ga salah dulu lo yang orasi paling kenceng masalah anti KKN ya? Gw liat kok. Lo kan senior FORK**. Gw liat tuh lo orasi semangat banget nyuruh pelaku KKN ditindak. Wah, salut deh gw. Lo keren banget waktu itu.

MTS: Wah, lo liat juga ya? Gw juga ikut aksi ‘98 yang numbangin Soeharto lho. Padahal waktu itu gw masih SMA.

S: Keren lo. Orang yang punya andil besar dalam mendukung penghapusan KKN ternyata tukang suap kayak lo. Keren banget. Salut gw. Lo dengan gampangnya bisa jadi kayak orang - orang yang lo caci maki itu.

MTS: Eh.. Errr… Eh, ada temen gw. Bentar ya, Han. *berlalu*

Wahai Mahasiswa, di mana idealismemu? Bukankah aku pernah berkata, masa menjadi mahasiswa adalah masa di mana kita bisa sok idealis tanpa dicela. Kita bisa menghujat pemerintah dengan gampangnya dan orang - orang cuma akan berkata “Biasa, masih mahasiswa”. Masa di mana kita bisa mengusahakan suatu perubahan tanpa harus berpikir panjang mengenai realita.

Akui saja, semua yang kita teriakkan di jalanan adalah sebuah harapan akan perubahan. Sebuah utopia menjadi negara kaya. Tapi kita yang merasa tahu keadaan di lapangan pun sebenarnya buta. Melakukan aksi, merasa membela kepentingan rakyat tanpa bertanya apakah mereka merasa terbela. Hanya menjeritkan harapan - harapan tanpa menyadari siapa yang sebenarnya kita perjuangkan. Rakyat? Atau identitas dan gengsi kita sebagai mahasiswa?

Saudaraku sesama mahasiswa, aku bukanlah seseorang yang tahan melihat negara ini perlahan hancur dan rata jadi tanah. Aku pun tak sanggup berdiam diri menyaksikan jutaan orang kelaparan di luar sana. Tapi aku juga bukan seorang fanatik aksi yang selalu meneriakkan idealismeku di jalanan. Aku hanya takut. Takut idealisme yang aku teriakkan akhirnya terbeli oleh lembaran uang seratus ribuan atau ditukar dengan produk kaum kapitalis yang selama ini kutentang. Bukan aku menginginkan itu terjadi, bukan juga aku akan membiarkannya. Tapi tidak ada yang bisa menebak keadaan nanti.

Lantas ke mana kita akan berpaling ketika masa itu tiba?

Kepada rakyat yang dulu katanya kita bela? Kepada pemerintah yang memaksa kita menjadi bagian dari mereka?

Di mana pertanggungjawaban kita atas semua orasi menggebu di depan gedung parlemen? Di mana senior - senior yang dulu darahnya juga sama panas dengan kita? Duduk manis di gedung - gedung bertingkat pemerintahan. Perut membuncit karena uang sogokan. Mobil mewah, istri cantik, dan selir 2,3, atau 4. Akankah kita menjadi seperti mereka?

Kuharap tidak. Idealisme seharusnya kita jaga semenjak kita masih menjadi mahasiswa. Aku selalu merasa bahwa idealisme adalah identitas, dan tanpanya maka aku tak ada.

Tentang Saya

Sudah hampir 1,5 tahun saya nyemplung dan membentuk dunia sendiri di sini. Jumpa pikiran dan jiwa dengan begitu banyak orang, dan jumpa muka dengan sebagian kecilnya.

Banyak yang sudah saya bagi dan banyak juga yang saya terima. Ada pendewasaan di antara suara ketukan kibord dan pikiran - pikiran yang tertaut melalui kata. Di dunia yang maya ini, saya temukan banyak orang hebat yang bisa saya jadikan tempat belajar. Belajar kebijaksanaan, kasih sayang dan kelembutan. Belajar tentang merahnya darah dan garangnya idealisme. Belajar ilmu kedokteran dan tentunya psikologi. Saya pernah jatuh dan lantas bangun lagi. Semuanya di sini.

1,5 tahun saya berbagi sedikit jiwa dan kepribadian dengan sekian teman yang terpisahkan oleh layar monitor. Beberapa mengenal saya dengan sangat baik melalui komunikasi yang intens.

Lo sebenernya mau ngemeng apa sih, Han? :mrgreen:

Ah, saya cuma mau minta pendapat mengenai saya yang kawan - kawan kenal selama ini. Silakan, tempat seadanya sudah disediakan di kolom komentar. Maaf, tidak ada makanan. Prihatin. :mrgreen:

Insiden Monas

Ada dua wacana mengenai Insiden Monas 1 Juni kemarin :

  1. Penaikan pamor pendukung Aliansi Kebangsaan yang notabene akan mencalonkan diri pada pemilu mendatang.
  2. Pengalihan isu BBM

Yang mana menurut Anda?

Kontemplasi

Derik api meningkahi segala bunyi. Suara jangkrik menghiasi malam sepi. Di sini, di ruang sempit bernama hati, ada asa yang membuncah. Memenuhi setiap sudut dengan sempurna. Asa mengenai cita dan cinta. Pengharapan dan kehidupan.

Roda waktu terus bergulir. Setiap putarannya menceritakan hal yang berbeda tentang dunia. Jejak - jejak roda yang membekas pada jalan hidup makin lama makin dalam. Mendewasakan.

Masa lalu adalah sejarah. Saat ini adalah cerita. Dan masa depan adalah harapan. Manusia mati ketika hidup tanpa mimpi.

Hidup ini adalah pilihan. Dan kita adalah pemeran utamanya. Mengambil pilihan yang salah bisa saja terjadi. Namun akankah hidup dihabiskan dengan menyesali diri?

Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan pilihan yang salah. Maka berhati - hatilah.

Rentang waktu panjang hidup kita dipenuhi cerita. Tentang tangis ketika pertama kali mencecap manisnya udara dunia. Tentang tawa di bawah siraman hujan. Tentang jari - jari yang lengket oleh es krim hasil rengekan pada orangtua. Tentang lapangan tempat bermain sepak bola. Tentang malu - malu cinta pertama. Tentang sakitnya kehilangan dan perpisahan. Tentang angan- angan yang disampaikan pada malam melalui kelip bintang di luar jendela.

Hidup ini indah. Seharusnya kita semua menyadari itu. Hanya saja terkadang kita terlalu sibuk meratapi pintu yang tertutup sehingga tidak melihat ada pintu yang terbuka. Ah, mungkin saja memang pintu itu tak ada. Tapi bisa dipastikan ada jendela seukuran tubuh kita di sana. Di mana kita bisa menyelinap masuk dan mencari kebahagiaan di tempat lain di belahan dunia.

Maka melajulah. Gerakkan kaki untuk berjalan tanpa henti. Jangan terlalu sering berlari, terkadang diri ini butuh sejenak mengurangi kecepatan dan mengistirahatkan hati.

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Tulisan ini untukmu. Semoga kau menjadi orang yang mampu bersyukur dan selalu bersemangat untuk maju. Selamat ulang tahun, J..

Kamar, 240508, 00:00 WIB

Dilemma

Saya memutuskan untuk berhenti. Hanya sementara. Berhenti dari aktivitas saya sebagai kader HMI. Saya akan menghilang dari cabang, begitu pula dari komisariat. Tidak akan menghadiri rapat jenis apapun yang diadakan oleh cabang walaupun sang Ketum sendiri yang mengundang.

Saya akan istirahat. Hanya sesaat. Melepaskan sejenak posisi - posisi yang saya emban. Menjauhkan diri dari interaksi jenis apapun dengan hal - hal yang berbau pengkaderan.

Saya tahu, tak mungkin melepaskan atribut saya sebagai kader HMI. Saya toh bangga menjadi bagian dari organisasi mahasiswa berusia lebih dari 60 tahun itu. Di mana pun saya, apapun yang saya lakukan, kebanggaan akan identitas saya itu tidak akan hilang. HMI adalah jati diri saya. Nafas kehidupan saya.

Saya sangat mengerti. Betapa saya mencintai organisasi ini. Betapa banyak pelajaran yang saya dapatkan. Dan sungguh, saya menulis ini dengan derai air mata kesakitan karena bayangan perpisahan.

Mengapa saya mengambil keputusan menyakitkan ini? Sederhana saja. Saya tidak mau diusung ke kursi kepresidenan fakultas pada pemira mendatang.

Alasannya? Saya tidak berminat dinaikkan oleh sekelompok hipokrit yang menamai dirinya HMI. Segolongan pencari keuntungan pribadi yang berlindung di balik jubah pengkaderan. Sejumlah mahasiswa yang mengaku aktivis melalui cara - cara penggelembungan suara setiap kali pemira.

Tanpa penggelembungan suara pun, saya pasti menang pemira kali ini. Itu seandainya saya bersedia. Tapi saya tidak mau. Hak - hak mahasiswa yang tidak tahu apa - apa akan dikebiri oleh mereka yang bermain politik di area kampus.

Saya tidak memiliki saingan berat. Ada 3 parpol besar dan dua di antaranya sudah berbaiat setia kepada saya. Sedangkan yang satu lagi tidak memiliki kader yang pamornya sekuat saya. Jadi, hanya dengan kuasa tuhan saya bisa dikalahkan.

Tapi, atas nama keadilan dan nurani, saya menolak. Saya sungguh tidak mau menjadi salah satu setan berjas almamater yang berteriak - teriak soal pemerataan sosial tapi justru berfoya - foya dengan uang rakyat. Konsekuensi dari keengganan saya adalah permusuhan. Tuduhan pengkhianatan. Celaan karena tidak berkontribusi. Tapi saya lebih memilih dihinakan untuk menjadi lebih terhormat.

Kita andaikan bila saya bersedia dan berhasil menyandang gelar sebagai presiden. Lantas apa? Kebanggaan itu cuma sehari. Sisanya bencana. Mereka yang tadi mengusung saya kini bisa tertawa dan menyombongkan diri ke mana - mana. Mendapatkan nama besar di kalangan aktivis HMI lainnya. Bahkan memuluskan jalur karir sebagian besar dari mereka di lingkup organisasi.

Dan saya ditinggalkan. Sendiri. Kelimpungan mengurusi organisasi intra yang saya menangi pemiranya. Menyelenggarakan kegiatan bagi mahasiswa namun sisa uangnya akan masuk ke partai. Dan mahasiswa lain tak tahu apa - apa.

Mereka yang tadinya mengelukan saya tidak akan membantu. Toh tujuan mereka sudah tercapai. Nama besar, pengkaderan, dan tentu saja uang. Saya sendiri.

Mungkin banyak yang akan beranggapan bahwa saya bodoh. Banyak yang mengincar posisi tersebut dan saya malah menolaknya. Silakan berpendapat sesuka Anda. Ini toh hidup dan idealisme saya. Bila ada yang menginginkan kursi itu silakan saja, saya bahkan akan membantu nanti setelah dia terpilih.

Saya menulis ini denga perasaan sakit yang tiada tara. Membayangkan akan berpisah, walau untuk sementara, dengan organisasi yang sudah mengisi jaluran darah saya. Organisasi yang saya bela sampai bertengkar dengan beberapa orang. Tapi toh saya tetap cinta.

Saya mengerti perasaan almarhum Ahmad Wahib kini, saat ia memutuskan untuk keluar dari HMI. Padahal saya tidak keluar, hanya beristirahat sejenak dari kegiatan organisasi. Dua bulan ini akan sangat menyakitkan bagi saya.

Sajak ini pendek saja

Hanya berisi kepedihan yang menjelma jadi kata

Hidupku adalah kau

Hidupmu adalah aku

Maka sungguh pun kita satu

Buat Alex

Cinta ini datang bawa godam

Menggedor – gedor dinding hati

Api di kiri

Di kanan sekam

Menyebut rasa yang diratapi sepi

Yang katamu akan datang sambil bernyanyi

Ternyata hanya mampir untuk menyakiti

Aku ini hanya gembala

Merumput dalam lapangan asa yang gersang

Banyak batu dan kerikil menghadang

Ah, diri ini melanglang dalam buana jalang

Hati ini sudah kau mamah

Kau kunyah – kunyah sampai lumat

Lalu kau buang jadi ampas

Sampah

Cinta ini tidak bawa manis rasa tragedi, Lex

Hanya ada getir dari darahku yang disedot lintah

Tambah parah

————————————————————————-

Sajak ini tidak kaitan denga kehidupan percintaan penulis. Ini adalah hutang yang dibayarkan.

Sekarang giliranmu lagi, Lex.

Hari Biru

Tulisan ini tersusun atas tetes – tetes air mata yang terjalin membentuk kata…

Semuanya dimulai pada hari Senin yang lalu. Saya berangkat ke daerah Jakarta Timur untuk observasi mata kuliah Psikologi Pendidikan. Sesuai dengan cita – cita saya yang memang berkaitan dengan anak – anak berkebutuhan khusus, maka saya dan tiga kawan saya lantas menuju Wisma Tuna Ganda Palsigunung. Pagi – pagi sekali kami sudah berangkat dikarenakan jauhnya lokasi dan waktu dimulainya kegiatan anak – anak tersebut yang memang pagi hari.

Saya sampai. Pemandangan yang saya lihat sungguh membuat saya miris. Bukan karena keadaan wisma yang tergolong bagus, tapi karena keadaan penghuninya. Yang pertama saya temui adalah Wulan. Seorang anak berusia 4 tahun yang menderita Hydrocephalus, Celebral Palsy, Tuna Netra, dan sederet disfungsi lainnya. Wulan hanya bisa berbaring di tempat tidur tanpa menyadari keadaan sekelilingnya. Membuka mata saja dia nyaris tidak bisa.


- Si Kecil Wulan -

Satu persatu saya menemui mereka. Semakin lama saya semakin sedih sekaligus merasa malu. Mereka yang mengalami berbagai disfungsi saja masih bersemangat belajar, bermain, dan terapi. Masih berusaha bicara dan bercerita dengan antusias pada saya walaupun hanya bisa mengeluarkan gumaman yangg tidak dapat dimengerti. Masih mengajak saya bermain biarpun mereka tak mampu berdiri.


- Gangguin Dani lagi belajar -

- Susan dan yang lain lagi terapi -

- Ga bisa komen -

- Theresia makan siang -

- Hana nemenin Fifi terapi -

Sedangkan kita?

Kebanyakan dari kita sudah mengeluh ketika terkena panas matahari. Sebagian besar sudah bolos kerja saat bersin lebih dari tiga kali. Sebagian lagi hidup dengan penuh keluh kesah dan ketidaksyukuran.

Saya benar – benar malu. Betapa saya yang normal ternyata masih saja tidak tahu bersyukur. Saya dapat melihat dengan baik, tapi kelilipan saja rasanya sudah nyaris seperti kiamat. Saya dapat mendengar dengan sempurna, tapi terkena flu yang menganggu pendengaran sedikit saja saya bereaksi seperti terkena cacat seumur hidup. Ya, ini adalah otokritik.

Note: Kelompok 3 Mejeng :mrgreen:

———————Update——————–

Karena dikhawatirkan atas adanya kemungkinan tuduhan eksploitasi, maka foto anak2 itu saya cabut. Terima kasih kepada Saudara Andri.

Endless Shift

Alam masih saja menari

Meliuk mengikuti irama yang kusiulkan dari bibir ini

Sepi saja

Aku sendiri

Tapi segalanya jadi pasti

Tentang cinta dan harapan

Cita dan angan

Idealita dan kenyataan

Aku tak pernah mencoba untuk berhenti

Chairil bilang, “Sekali berarti, sudah itu mati”

Hidup ini perjuangan, begitu kataku selalu

Berhenti berjuang berarti berhenti hidup

Mati

Hilang

Tak ada

————————————————————————-

Hidup tidak bisa menunggu. Begitu juga Sang Waktu. Hakikat kehidupan adalah perjuangan. Berjuang untuk menjadi lebih bahagia. Lebih baik. Lebih sukses. Dan berjuang untuk hidup demi kehidupan.

Tuhan memiliki alasan mengapa Dia memilih untuk menciptakanmu dan menciptakanku. Tugas kita adalah menemukan apa yang Tuhan inginkan dari kita. Mungkin kita dilahirkan untuk membantu seseorang? Atau untuk memimpin sebuah komunitas? Atau bahkan untuk menjadi orangtua, anak, dan istri yang baik. Setiap orang memiliki satu peranan untuk dimainkan.

Roda nasib selalu berputar. Dan kita harus menari cantik di atasnya agar tidak tergilas.

Halaman Berikutnya »


Free Burma!!!

free burma

QuOteS oF dE MoMeNt,,

Atit iyut..

Gudang

bAnYakNya PemBeLi,,

  • 30,395 oRan9

Pameran Kecap..

FPI, bubar aja ya???

Yang Lagi Beli,,

page counter